Review Fitrah Seksualitas Hari ke-5

Hari kelima diskusi mengenai fitrah seksualitas, tapi ternyata kelompok 4 juga belum siap tampil ๐Ÿ˜† Akhirnya diskusi di kelas dibuka dengan studi kasus.

Kasus Pola asuh 1:

Rika adalah anak tunggal yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Ayahnya direktur di perusahaan tekstile, sementara ibunya mengelola bisnis online dari rumahnya.

Rika adalah anak yang sangat dinantikan kehadirannya oleh orang tuanya setelah bertahun tahun menikah. Saking bahagianya, Rika dibesarkan dalam kondisi segala kebutuhannya terpenuhi. Mainan yang bervariasi, makanan yang tak pernah kekurangan serta kasih sayang yang berlebih dari kedua orang tuanya.

Rika tumbuh menjadi anak yang manja. Nyaris tidak ada peraturan di rumahnya. Menjelang remaja, Rika bergaul dengan siapapun yang dia mau, termasuk dengan lelaki yang disukainya.

Menurut bunda bunda, bagaimana fitrah seksual Rika jika dikaitkan dengan pola asuh yang didapatnya selama ini?

=====

[12/1 20:39] Siwi Aryani IIP: Fitrah seksualitasnya tidak tumbuh Paripurna. Tidak memiliki figur Ayah atau ibu
[12/1 20:40] Inggil Windiarti IIP: Tjakep..

Akibatnya?
[12/1 20:44] Siwi Aryani IIP: Akibatnya:

Mencari figur ayah sehingga mudah didekati laki2 diapain juga mau.

Dia ga ngerti posisi wanita yang terhormat itu seperti apa semestinya
[12/1 20:45] Iedha IIP: Jika kedua orang tua Rika masih bisa membangun attachmemt ditengah-tengah kesibukan mereka berdua, namun disisi lain pemberian fasilitas yang berlebih serta ketiadaan aturan di rumah Rika menunjukkan bahwa orang tua Rika bisa membangun attachment namun *tahapan-tahapan mendidik fitrah seksualitas tidak dipenuhi*.
Berdasarkan tahapan-tahapan seksualitas, memberikan kasih sayang namun tetap memberikan aturan yang jelas..
[12/1 20:46] Barlian Mustikaningrum IIP: aahh…saya baru mudeng ini…maksud ketiadaan figur ayah dan ibu itu bukan hanya fisik ya…tetapi *HADIR* dalam bentuk aturan, kepemimpinan (ayah) dan contoh perilaku yang baik sebagai perempuan (ibu). betul gak pemahaman saya?
[12/1 20:46] Iedha IIP: Sepemahaman dengan saya juga ini
[12/1 20:47] Siwi Aryani IIP: Betul… Makanya ga heran tuh yang ga deket ma ayahnya pasti mauuu aja diapain. Ayah itu cinta pertama anak gadisnya๐Ÿ˜
[12/1 20:47] โ€ช+62 813-3251-1604โ€ฌ: Setuju
[12/1 20:47] Barlian Mustikaningrum IIP: sepakat ๐Ÿ‘Œ๐Ÿป
[12/1 20:53] Iedha IIP: ๐Ÿ“ *ayah itu cinta pertama anak gadisnya*
[12/1 20:58] Siwi Aryani IIP: Ibu cinta pertama anak Lelakinya
[12/1 21:03] Iedha IIP: Anak perempuan yang kurang vitamin A:
๐Ÿ‘‰๐Ÿป lebih mudah menyerahkan tubuhnya pada laki-laki
๐Ÿ‘‰๐Ÿป trauma / kurang nyaman terhadap sosok laki-laki, jika hal ini cukup parah bisa mengarah pada lesbi

Anak laki-laki yang kurang supply dari ibu:
๐Ÿ‘‰๐Ÿป playboy
๐Ÿ‘‰๐Ÿป kurang nyaman terhadap sosok wanita, jika hal ini cukup parah, bisa mengarah pada gay

๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿปmohon dikoreksi ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
[12/1 21:09] Fatimah Al Bathul IIP: Mba, tapi apakah memang bisa dipukul rata bahwa setiap kasus penyimpangan seksual itu disebabkan oleh pola asuh yang tidak tepat?
[12/1 21:13] Iedha IIP: Nah, menurut saya, disini lah fungsi kolaborasi antara fitrah keimanan, fitrah seksualitas, fitrah individual (masa egosentris), dan fitrah solsialitas ๐Ÿ‘‰๐Ÿป agar anak mempunyai keimanan yang kuat, berani _berbeda_, berkata *tidak* sehingga bisa tetap eksis, tidak terbawa oleh lingkungan yang pengajak atau memengaruhi menuju penyimpangan seksual bunda..
[12/1 21:16] Deasy Irawati IIP Solo: #nyimak dl. Saya termasuk anak yg tdk dekat dgn ayah. Tdk punya figur ayah di rumah.
[12/1 21:22] Iedha IIP: Saya share sedikit pengalaman saya, semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Aamiin.

Saya mempunyai temen akrab sebut saja Anggun , sejauh saya mengenal beliau, beliau cukup religius. 1,2,3 bulan pertama masih aman. Semakin hari lingkup pergaulan kami pun semakin luas sampai saya sadari, (mungkin) karena lingkungan kami sebanyak 13.000 orang karyawan, 11.000 diantara nya adalah perempuan. Jadi sesama perempuan bermesraan, bahkan (maaf) ciuman bibir di tempat umum adalah hal yang lumrah bagi pemandangan saya kala itu. Lambat laun, mbak anggun bergaul dengan teman-teman yang (mohon) fitrah seksualitas nya menyimpang. Saat itu beberapa teman menyarankan agar mbak anggun jaga pergaulan dengan teman-teman yng seksualitas menyimpang ini karena khawatir egosentris nya mbak anggun jebol. Qodarullah beberapa bulan berselang, jilbab itu tanggal bahkan mbak anggun menyukai sesama jenis..

Dari kisah sahabat saya ini, saya mendapatkan hikmah betapa penting nya kita menuntaskan masa egosentris anak agar anak-anak kita tidak takut untuk _berbeda_ agar ia tetap menjadi pribadi sebagaimana fitrah nya

======

[12/1 21:18] Inggil Windiarti IIP: Kasus 2:
Hary adalah seorang siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah favorit di kotanya. Hani, makanya juga bersekolah di sekolah yang sama, kelas 5 SD. Orangtua mereka bersedia mengeluarkan biaya sekolah yang sangat besar demi anak anak mereka agar bisa diterima dan bersekolah disana. Dengan bangganya mereka akan memberitahukan kbahwa anak anak mereka bersekolah disana saat ada yang menanyakannya.

Setelah pulang sekolah, hampir setiap hari, Hary dan Hani harus mengikuti berbagai kursus lainnya yang ditentukan orangtua mereka. Mereka hanya mengikuti kegiatan yang ditentukan oleh orangtua nya…

Hingga saat bertemu temannya di sekolah dan saling bercerita, mereka tau bahwa ternyata temannya ada yang diberi kebebasan oleh orang tuanya….

Menurut bunda bunda ,bagaimana dampak pola asuh yang dialami Hani dan Hary?
[12/1 21:32] Iedha IIP: Mungkin secara akademik baik bun.. Tapi perkembangan mereka dalam Berpikir, Memilih dan Mengambil keputusan jadi kurang berkembang dengan baik. Dampaknya, mereka akan susah menentukan keputusan, nah hal itu berkaitan dengan fitrah individualitas.. Anak yg dididik secara diktator, kedepan nya tidak menutup kemungkinan merasa sangat rentan ikut dengan arus lingkungan.
Lingkungan baik jadi baik ๐Ÿ‘‰๐Ÿป alhamdulillah
Lha kalau lingkungan nya nggak baik, khususnya terkait fitrah fitrah seksualitas, lingkungan mengarah pada penyimpanan seksualitas, bagaimana?
[12/1 21:38] Inggil Windiarti IIP: Ini bagus kesimpulan nya. Its take and village to raise a child

Anak, pertama kali berinteraksi dengan siapa, keluarga atau lingkungan? Anak lebih sering bertemu dengan siapa, keluarga atau lingkungan?
[12/1 21:39] Iedha IIP: Keluarga dong bun ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
[12/1 21:46] Inggil Windiarti IIP: Jadi, anak “bermasalah” itu awalnya dr…
[12/1 21:46] Iedha IIP: Jadi support terbesar nya adalah keluarga…

Pengalaman saya bun, saya mendapatkan pondasi justru di 7 tahun pertama.
Makanya ada ulama (Kalau tidak salah Ali bin abi thalib ya, maaf saya lupa) mengatakan 7 tahun pertama perlakukan anak seperti raja.
Raja itu:
๐Ÿ‘‰๐Ÿปbicara nya yang baik (Kalau Jawa ya bahasa kromo ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป)
๐Ÿ‘‰๐Ÿปpergaulan nya tidak boleh dengan sembarang an (lebih ditekankan bergaul dengan orang yang baik-baik)
๐Ÿ‘‰๐Ÿปadab nya harus bagus
De el el ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
Raja itu ๐Ÿ‘‰๐Ÿป berani beda โœŒ๐ŸปโœŒ๐ŸปโœŒ๐Ÿป

Ketika Qodarullah diusia menjelang 8 tahun roal coaster kehidupan saya dimulai, alhamdulillah pondasi di 7 tahun pertama saya sangat bermanfaat.

Bayangin kalau anak dibawah 7 tahun justru jarang interaksi dengan ortu, bergaul dengan sembarang orang (maaf contohnya dengan anak-anak seusia yang adab nya tidak baik, bicara nya kasar) apakah ketika dewasa dan ia harus membayar dengan lingkungan yg beragam, ia bisa menempatkan diri dengan baik ataukah ia berani untuk _beda_?
[12/1 21:48] Iedha IIP: #Hari berbaur dan berinteraksi dengan lingkungan maupun pribadi yang beragam
[12/1 21:49] Inggil Windiarti IIP: Yap, anak sebagai raja itu maknanya d atur segalanya dan d jaga sbgmn raja… Bukan dituruti smw keinginan nya
[12/1 21:49] Fatimah Al Bathul IIP: Noted, mba Ida.
Makasih ya..
[12/1 21:50] Iedha IIP: Sama-sama Bunda… Kita sama-sama belajar..
Owh ya ini juga sebagai jawaban untuk pertanyaan nya bunda @โจEvin IIP Jogjaโฉ ya pada saat diskusi kelompok saya kemarin.. PR yang baru bisa dijawab ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป
[12/1 21:51] Fatimah Al Bathul IIP: Either hidup tanpa passion or jadi pemberontak untuk menemukan jalan hidup terbaik menurut mereka.
[12/1 21:52] Fatimah Al Bathul IIP: Iya mba Ali bin Abi Thalib. Walaupun seringkali dinisbatkan pendidikan a la Rasul.
7 tahun pertama Raja
7 tahun kedua Budak/ hamba
7 tahun ketiga sahabat/ menteri

=========

[12/1 21:53] Inggil Windiarti IIP: Kasus 3:

Devi adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang guru SD yang berdedikasi.
Ibunya berjualan nasi uduk di rumahnya.

Devi adalah siswa SMA di sebuah sekolah negeri favorit di kotanya. Adiknya, Hasan, adalah siswa SMP di dekat rumahnya. Sementara adiknya yang paling kecil masih sekolah di SDIT yang tak jauh dari rumahnya.

Ayahnya adalah seorang ayah yang menyenangkan bagi anak anaknya. Setiap malam, saat makan, ayahnya sering mengajak diskusi berbagai hal, termasuk Masalah yang sedang dialami anak anaknya. Mereka mendiskusikan masalah bersama dan menyusun solusi bersama untuk setiap masalah yang dihadapi orang tuanya.

Suatu hari, Hasan didapati membawa teman perempuan ke rumahnya dan memperkenalkan pada anggota keluarganya bahwa teman perempuannya sebagai pacar barunya.

Bagaimana reaksi keluarga Hasan? Diskusi yuks
[12/1 21:56] Siwi Aryani IIP: Diterima dengan baik dan ramah
[12/1 21:57] Fatimah Al Bathul IIP: Saya setuju sama mba Siwi
[12/1 21:58] Iedha IIP: Sependapat Bunda..

Nah, habis itu malamnya ayah Hasan mengajak diskusi.

 

[12/1 22:01] Siwi Aryani IIP: Ijin berpendapat mba… Menurutku kok lebih ke Fitrah perkembangan dan Fitrah Individualis/ sosialnya ya?
[12/1 22:05] Inggil Windiarti IIP: Yup.. karena pola asuh ini berpengaruh terhadap imunitas anak, terkait jg dengan masalah seksualitas yang berkembang
[12/1 22:06] Iedha IIP: Bunda @โจInggil Windiarti IIPโฉ, sepertinya kita perlu diskusi ttg Macam-macam fitrah deh bun, gimana?
[12/1 22:06] Siwi Aryani IIP: Fitrah seksualitas dan perilaku seksual menurutku juga berbeda.

Perilaku seksualย adalahย perilakuย yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis.ย Perilaku seksualย juga merupakanย perilakuย yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, biasanya dilakukan oleh pasangan suami isteri.
[12/1 22:06] Siwi Aryani IIP: Sementara fitrah seksual seperti yang dijelaskan mba @โจIedha IIPโฉ kmen
[12/1 22:06] Inggil Windiarti IIP: ๐Ÿค”

Iya ya
[12/1 22:07] Iedha IIP: Biar tanda โ“โ“โ“ nya terjawab bunda @โจInggil Windiarti IIPโฉ
[12/1 22:09] Iedha IIP: Masih ngunyah pelan-pelan Bunda ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
[12/1 22:12] Inggil Windiarti IIP: Syp bersedia memandu?
[12/1 22:14] Fatimah Al Bathul IIP: Balik dulu ke penjelasan mba ida kemarin kalau gitu.
Belum paham berarti, belum mendarah daging ๐Ÿคญ
[12/1 22:15] Iedha IIP: Boleh mbak, silahkan.. Ntar Bunda @โจSiwi Aryani IIPโฉ bantuin menemukan jawabannya ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‡
[12/1 22:15] Fatimah Al Bathul IIP: Wah, belajar lagi. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
Semoga waktunya cocok. Minggu depan mau agak ‘sok sibuk’ nih. ๐Ÿ˜
[12/1 22:17] Iedha IIP: Insyaallah nanti menemukan jawaban dari penjelasan dari saya kemarin yang masih super mbulet , maafkan diriku ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป
[12/1 22:20] Fatimah Al Bathul IIP: Sepertinya karena saya yang masih awam dengan pembagian berbagai fitrah ini. Jadi saya yang bingung.
[12/1 22:28] Siwi Aryani IIP: InsyaAllah Siap…
[12/1 22:31] Inggil Windiarti IIP: Alhamdulillah.. suka’ dengan semangat pembelajar nya
[12/1 22:31] Inggil Windiarti IIP: Diskusi malam ini qt tutup y
[12/1 22:32] Inggil Windiarti IIP: Insyaallah besok grup 4 sudah ready ๐Ÿ˜‰
[12/1 22:32] Inggil Windiarti IIP: Pamit y kawans
[12/1 22:32] Inggil Windiarti IIP: Assalamualaikum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *